Biografi Abu Hurairah
Abu Hurairah
Nama lengkap Beliau adalah Abu
Hurairah bin Shakhkhar. Ibunya adalah Maimunah, yang sempat masuk Islam sebelum
wafatnya.
Abu Hurairah adalah seorang di antara Muhajirin yang miskin, Ia termasuk salah seorang Ahlush Shuffah, yaitu sahabat yang tinggal di Madinah. Beliau tidak punya rumah untuk tinggal, tidak punya tanah untuk bercocok tanam, tidak punya barang dagangan untuk dijual. walaupun demikian beliau tegar dalam menghadapi hudup dan sanggup menerima SAW secara baik.
Marwan bin
Hakam pernah menguji
tingkat hafalan Abu Hurairah terhadap hadits Nabi. Marwan memintanya untuk
menyebutkan beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun
kemudian, Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah pun menyebutkan semua
hadits yang pernah ia sampaikan tahun sebelumnya, tanpa tertinggal satu huruf.
Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa' Abi Hurairah. Abu Hurairah sejak kecil tinggal bersama Rasulullah.
Pada masa Khalifah Umar bin Khatab beliau pernah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Beliau wafat pada tahun ke-59 Hijriyah dalam usia 78 tahun.
Abu Hurairah
berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman.
Ia diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah,
dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba
matahari) .
Abu Hurairah sangat menyenangi
seekor kucing, sehingga sering kucing itu digendong, dirawat, diberi makan dan
bagi kucing itu disediakan tempat khusus. maka beliau digelari pula dengan Abu
Hurairah, yang artinya orang yang menyanyangi kucing.
Abu Hurairah adalah seorang di antara Muhajirin yang miskin, Ia termasuk salah seorang Ahlush Shuffah, yaitu sahabat yang tinggal di Madinah. Beliau tidak punya rumah untuk tinggal, tidak punya tanah untuk bercocok tanam, tidak punya barang dagangan untuk dijual. walaupun demikian beliau tegar dalam menghadapi hudup dan sanggup menerima SAW secara baik.
Thufail bin Amr, seorang pemimpin
Bani Daus, kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad saw dan menjadi muslim. Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu
Hurairah segera menyatakan ketertarikannya meskipun sebagian besar kaumnya saat
itu menolak. Ketika Abu Hurairah pergi bersama Thufail bin Amr ke Makkah, Nabi Muhammad mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba
Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim,
sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun
629. Abu Hurairah pernah meminta Nabi untuk mendoakan agar ibunya masuk Islam,
yang akhirnya terjadi. Ia selalu menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya
Nabi tahun 632 di Madinah.
·
Periwayat Hadis
Abu Hurairah
Allooh Subhaanahu wa
ta’ala mengabulkan doa Rosuululloh agar Abu Huroiroh dianugrahi hapalan yang
kuat. Ia memang paling banyak hapalannya diantara para sahabat lainnya.
Pada masa Umar bin Khoththob menjadi
Kholifah, Abu Huroiroh menjadi pegawai di Bahrain, karena banyak meriwayatkan
hadist Umar bin Khoththob pernah menetangnya dan ketika Abu Hurairah meriwayatkan
sabda Rosuulullooh sholalloohu alaihi wassalam :” Barangsiapa berdusta
mengatasnamakanku dengan sengaja, hendaklah ia menyediakan pantatnya untuk
dijilat api neraka”. Kalau begitu kata Umar, engkau boleh pergi dan
menceritakan hadist.
Syu’bah bin al-Hajjaj memperhatikan
bahwa Abu Huroiroh meriwayatkan dari Ka’ab al-Akhbar dan meriwayatkan pula dari
Rosuulullooh Shollalloohu alaihi wassalam, tetapi ia tidak membedakan antara
dua riwayatnya tersebut. Syu’bah pun menuduhnya melakukan tadlis, tetapi Bisyr
bin Sa’id menolak ucapan Syu’bah tentang Abu Huroiroh. Dan dengan tegas
berkata: Bertakwalah kepada Allooh dan berhati hati terhadap hadist. Demi
Allooh, aku telah melihat kita sering duduk di majelis Abu Huroiroh. Ia
menceritakan hadist Rosuulullooh dan menceritakan pula kepada kita riwayat dari
Ka’ab al-Akhbar. Kemudian dia berdiri, lalu aku mendengan dari sebagian orang
yang ada bersama kita mempertukarkan hadist Raouluullooh dengan riwayat dari
Ka’ab. Dan yang dari Ka’ab menjadi dari Rosuulullooh.”. Jadi tadlis itu tidak
bersumber dari Abu Huroiroh sendiri, melainkan dari orang yang meriwayatkan
darinya.
Syafi’i pernah berkata: “Abu Hurairah adalah
orang yang paling banyak menghafal hadits bila dibandingi dengan perawi-perawi
di masanya.”
Abu Hurairah adalah sahabat yang
paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad, yaitu sebanyak 5.374
hadits. Di antara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin
Malik, Jabir bin Abdullah, dan
lain-lain. Imam Bukhari pernah berkata: "Tercatat lebih
dari 800 orang perawi hadits dari kalangan sahabat dan tabi'in yang meriwayatkan hadits dari Abu
Hurairah".
Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa' Abi Hurairah. Abu Hurairah sejak kecil tinggal bersama Rasulullah.
Abu Hurairah adalah seorang ahli
ibadah, begitu juga istri dan anaknya. Mereka semua biasa bangun pada malam hari
secara bergiliran. Beliau bangun pada sepertiga malam kedua dan kemudian
anaknya pada sepertiga malam terakhirnya.
·
Meninggal Dunia
Pada masa Khalifah Umar bin Khatab beliau pernah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Beliau wafat pada tahun ke-59 Hijriyah dalam usia 78 tahun.
Source ( Internet )
.jpg)


Biasa ae
BalasHapusBodo amat yang penting ngerjain :P
BalasHapus